Laman

Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 14 Januari 2014

Diri Harus Bangun

Walau mentari perlihatkan sinarnya,
ia tak mampu terangi jiwa ini.
walau rembulan datang dan ditemani bintang-bintang,
malamku tak dapat cerah selalu.
Mungkin aku harus bangun,
karena jiwa ini dapat terang,
dapat cerah, dapat ceria,
dengan tegaknya diri ini.
Untuk jiwa yang sedang sakit,
rasakanlah sakit itu,
bayangkanlah rasa sehatmu,
rasakanlah dan bandingkanlah...
mana yang kau suka? mana yang kau pinta?

Selasa, 14 Januari 2014 @Yogyakarta.

Resensi: Analisis Bahan Pengawet Benzoat pada Saos Tomat



(I M. Siaka, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana – dalam Jurnal Kimia 3 (2), Juli 2009: 87-92, ISSN 1907-9850)
Diresensi oleh : Ahmad Said
Siaka (2009) melakukan penelitian ini untuk menentukan kadar benzoat dalam saos tomat yang beredar di wilayah Kota Denpasar. Saos tomat merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat dan di dalamnya terdapat bahan pengawet benzoat yang perlu diwaspadai untuk menjaga keselamatan bersama.
Dalam penelitiannya, Siaka menganalisis benzoate dengan metode titrimetri. Perlakuan awal adalah ekstraksi dengan pelarut dietil eter. Empat langkah yang dilakukannya yaitu teknik pengambilan sampel, preparasi sampel, uji kualitatif dengan FeCl3 dan uji kuantitatif dengan titrasi.
Pengambilan sampel dilakukan secara random dengan membagi wilayah Kota Denpasar menjadi 3 bagian sesuai dengan wilayah kecamatan: Timur, Selatan, dan Barat. Setiap kecamatan diambil 3 pasar tradisional. Total sampel yang diperoleh 13 jenis dengan 3 jenis saos tomat bermerek dan 10 saos tomat tanpa merek.   
Masing-masing sampel saos tomat sebanyak 100 g ditambahkan 15 g NaCl, lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 500 mL. Selanjutnya larutan ditambahkan 150 mL NaCl jenuh dan NaOH 10% hingga larutan bersifat alkalis. Kemudian larutan diencerkan dengan akuades hingga tanda batas dan dibiarkan selama 2 jam dengan pengocokan setiap 30 menit. Kemudian larutan disaring dan 100 mL filtratnya dinetralkan dengan HCl 5%, dan ditambahkan lagi 5 mL HCl setelah netral. Hasilnya diekstraksi dengan pelarut eter beberapa kali dengan volume berturut-turut 70, 50, 40, dan 30 mL. Pencegahan emulsi dilakukan dengan menggoyang-goyangkan secara kontinu setiap kali ekstraksi dengan gerakan memutar. Lapisan eter hasil ekstraksi dikumpulkan dan didistilasi dengan vakum rotary evaporator pada suhu 30-500C hingga ekstrak menjadi pekat. Ekstrak dikeringkan di atas penangas air, lalu dimasukkan dalam desikator berisi H2SO4 pekat semalaman. Ekstrak kering dilarutkan dalam labu takar 50mL dengan akuades.
Larutan ekstrak (asam benzoat) diambil sebanyak 10 mL dan dibasakan dengan NH3. Kemudian larutan diuapkan di atas penangas air. Residu yang diperoleh dilarutkan dengan air panas dan disaring. Uji asam benzoate dengan FeCl3 3-4 tetes 0,5% dengan haisl positif berupa endapan kecoklatan.
Larutan ekstrak sebanyak 10 mL dalam labu Erlenmeyer 250 mL ditambahkan dengan 2-3 tetes indicator fenolfftalein (pp). Kemudian larutan dititrasi dengan NaOH 0,0504 mol/L yang telah distandardisasi dengan asam oksalat. Titrasi dihentikan setelah terbentuk warna merah muda. Larutan NaOH titrasi dicatat untuk menentukan kadar benzoate. Titrasi dilakukan tiga kali.
Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan Siaka menunjukkan bahwa saos tomat di wilayah Kota Denpasar mengandung pengawet benzoat, baik yang bermerek maupun yang tidak. Kadar benzoatnya berkisar antara 600,12—1271,86 mg/kg. Saos tomat bermerek mengandung benzoat lebih rendah dari batas maksimum yang diperbolehkan, sementara 33% sampel saos tomat tidak bemerek sebaliknya (melebihi batas maksimum), sehingga kurang layak dikonsumsi.

Galau di Malam Tahun Baru



Oleh: Dias
“A’, pesan nasi magelangan dua, es tehnya satu dan cappucino cincau latte-nya satu”, pinta gadis yang baru saja datang kepada pelayan di sebuah café komplikasi dengan salah satu menu uniknya, ‘Warung Burjo-an’. Gadis yang bernama Ruri itu mencari tempat lesehan.
“Di situ aja, Ri.. Nomor 001 seperti kesukaanku”, ucap Meili, teman Ruri, sambil mengangkat jari telunjuknya ke situs meja 001.

Mereka berdua membuka tas masing-masing dan mengambil laptop. Tak berapa lama setelah mencomot WIFI gratis dari café, kedua gadis manis itu tersenyum di depan layar laptopnya dan sesekali tertawa. Meili meraih gelas capcin latte-nya yang sudah datang dari tadi. Diteguknya sampai isi gelas hanya separuhnya.
“Astagfirullah… Mei, kamu tadi minumnya baca basmalah dulu tidak?”
“Ada apa toh?” Tanya Meili dengan mengernyitkan kedua alisnya.
“Apa tidak sadar, kalau isi gelasmu tinggal separuh?”
“Oh, ini… Aku sadar kok. Emm… iya sih tadi saya lupa baca doa, hehe… Allāhumma bārik lanā fī mā rozaqtanā waqinā adzābannār, āmīn..”
“Nah gitu dong, itu baru namanya orang Islam. Oke, sekarang kita santap nasi magelangannya dulu…!” Pimpin Ruri seperti komandan perang yang memberikan aba-aba kepada pasukannya.

Seusai makan, mata kedua gadis parang itu membalik laptopnya masing-masing. Sesekali mereka merengangkan tubuhnya yang mulai terasa pegal. Meili melirik layar laptop Ruri yang sedari tadi masih senyum-senyum sendiri. Ruri masih asyik dengan chatting-nya, sementara temannya yang berkerudung hijau itu sedang merasa jenuh dengan mulut dimoncongkan ke kiri-kanan. Melihat tingkah temannya yang aneh, Ruri melirik Meili dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Kenapa?” Tanya gadis berbatik mega mendung berwarna coklat dan berkerudung coklat, sembari senyum meledek. “Lā adriy… tiba-tiba saja merasa bosan. Tiap hari kerjaanku hampir nge-net terus kalau dipiki-pikir”, jelas Meili datar. “Ya sudah, tidak usah dipikir dong…” ujar Ruri dengan nada meledek. “Ah, kamu mah malah ngeledekk”, tandas Meili dengan menghela nafas. 

“Aku bosan banget nih, hampir tiap menit eksis di dunia maya, Fb, twittter atau media sosial lainnya. Aku tuh pengen banget punya karya biar jadi terkenal. Semua orang akan mengenalku karena karyaku yang banyak dibaca orang. Aku pengen—Yah! Intinya sudah bosan dengan hidupku selama ini!” Ujar Meili panjang lebar mencurahkan isi hatinya.
Ruri menghela nafas pelan. Hembusan angin menerpa batik Cirebon yang dikenakannya. “Itu sih gampang. Aku punya sebuah situs website buat kamu yang lagi galau”. Meili meletakkan laptopnya, sementara Ruri meletakkan laptopnya di atas meja kecil.
“Kamu kan suka online tuh, yah so pasti kamu tidak akan cepat puas dengan yang satu ini. Situs dompetpahala.com. Situs ini paling sering dikunjungi oleh para pemuda”.

“Terus..terus… ada apa saja di dalamnya? Aku bakalan dapat fasilitas apa saja nanti dari situs itu?” Dengan tiba-tiba Meili menyerobot dengan penuh rasa penasaran.
“Fasilitas?!  Memangnya seminar kalii…” Ujar Ruri dengan melebarkan mulutnya.

“Assalamu’alaikum…”
Seorang laki-laki datang di hadapan mereka. “Lagi pada ngapain nih? Nampaknya ada diskusi asyik nih malam ini... Apaan tuh?”
“Wa’alaikumussalaam…” Kedua gadis membalas salam. “Ih, kamu kepo banget sih, Din?!!”
“Lah kenapa? Ini kan Negara demokrasi, jadi aku boleh dong ikut-ikutan diskusi dengan kalian?” Tegas Ahmad Burhanudin yang disapa akrab Udin. “Lagian ini café bukan milik nenek moyangmu”.
“Ih, apa-apaan sih maksudmu. Gak nyambung juga deh ikutan diskusi dengan demokrasi”, kecap Ruri menyolot.
“Hehe… Afwan, cuma ber-kidding. Kalian lagi bahas apa sih sampai-sampai ngundang saya ke sini?”
“Kamu tuh gak jelas banget dweehh, Din…” ujar Ruri dengan menggoyangkan kepala ke atas-ke bawah, lalu memoncongkan bibirnya.

“Bismillah, begini loh ceritanya. Si Meili lagi galau, dia pengen berkarya lewat tulisan dan lainnya, biar terkenal gitu. Terus aku tunjukkan situs dompetpahala.com”. “Ah bener sekali itu! Saya tahu banyak tentang situsnya. Situs dompetpahala.com punya banyak rubrik, seperti artikel, fiksi, dan video”, jelas panjang lebar Si Adin kepada Meili. Adin menyeruput kopi hitamnya seraya meminum jus stroberi yang nikmat.

“Waah bagus banget tuh... Terus rubrik-rubrik itu penjelasannya bagaimana? Apa aku bisa manfaatin semuanya ?” Tanya Meili menyerbu Adin seperti sedang sedang dikejar-kejar oleh musuhnya. Adin spontan terdiam dan menatapi wajah Meili, entah kenapa seperti ada yang berdesir di dalam hatinya.

“Ehm… ada yang cinlok nih di café kayaknya”. Ruri berdehem. Adin tergentak dari lamunannnya dan bertingkah salting. Tapi, sesegera mungkin Adin menguasai dirinya dan menyambung lidah Meili.
“Lanjut ya. Jadi, rubrik artikel itu untuk para pemuda yang mau berbagi infomasi lewat artikelnya dan ia pun dapat menikmati artikel lainnya yang ia butuhkan. Kalau fiksi isinya cerpen, cerbung, novel, atau puisi dengan fungsi sama dengan artikel, pengunjung dapat membaca dan meng-upload karya fiksinyanya. Nah, buat nambah kalian eksis, di situs itu ada rubrik video yang digunakan untuk mengunggah karya rekaman video kita. Siapa tahu ada yang mau nonton dan bisa terinspirasi melihatnya“, jelas Adin dengan muka penuh ekspresi yang ditutup dengan senyuman.

Meili meraih gelasnya dan ternyata isinya telah habis. Lalu, tangan kirinya menjulur ke arah gelas miliki Ruri. Tanpa pamit, Meili meneguk es tehnya.

“Astaghfirullah, Meili… itu kan milikku. Kenapa kau sikat juga? Gak sopan sih, kamu. Kalau kamu permisi kan, ‘mungkin’ aku akan memberimu izin”, rengek Ruri dengan tatapan tajam pada Meili. Muka Meili seketika tunduk, “Afwan, ya ukhtiy… Aku minta maaf dan minta es tehmu ya…”

“Sudahlah, begitu saja kok ribut. Malu dong kalau dilihat teman-teman cowok”, ujar Adin bergaya seperti Da’i. “Oh ya, kenapa kalian tidak pergi ke lapangan? Bukankah ini malam tahun baru ya?”
“Oh ya? Malam ini malam tahun baru? Bagaimana saya bisa lupa ya?” ucap Ruri yang kali ini bersikap aneh.
“Tapi begini, saya mendengar perkataan dosen saya ketika mata kuliah Ibadah dan Akhlak. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa saja yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (dari agama tertentu), maka ia termasuk ke dalam bagian dari mereka’. Artinya, perayaan tahun baru masehi ini tergolong ke dalam perbuatan yang hukumnya haram karena mengikuti ajaran agama lain.” Lagi-lagi Adin berceramah di depan kedua gadis yang tampaknya terlihat sudah lelah.

“Iya, ustadz. Kami setuju itu. Tapi ada juga ulama yang mengatakan kalau ihwal ini tergantung daripada niatnya”, ceplos Meili.

“Contoh…?” Tanya Ruri yang di dalam hatinya mengiyakan pernyataan tersebut.
“Kalau memanfaatkan event malam tahun baru untuk berkunjung ke panti asuhan, memberi makan fakir miskin, membersihkan lingkungan itu termasuk perbuatan yang positif….”, jelas Meili dengan penuh senyuman dan ujung matanya melirik sosok laki-laki berkemeja kotak-kotak putih, “dan…apa yang sedang kita lakukan sekarang ini—berdiskusi—juga insya Allah termasuk ke dalam hal yang positif”.

“Enggih, Ustadzah…” ceriwis cewek yang sedari tadi memandang Meili semakin bertingkah beda setelah kedatangan cowok Madura itu. “Sepertinya kalian cocok deh kalau jadian, eh maksud saya…bersatu dalam akad nikah. Hehe…”
“Hush…sembarang aja kamu keluarkan kata-kata”, ucap Meili dengan nada tegas. Lalu tersenyum malu dengan Adin.

“Ah, ada yang terlewat. Satu lagi dari Mayora… yang tak kalah penting yaitu ada latihan tahsin dan tilawah al-Qur’an. Apalagi, dulu kamu kan pernah minta saya untuk ngajarin kamu tahsin, tapi saya tak bisa dan tak sempat. Banyak proyek,  hehe…”

“Wah bagus banget. Boleh juga tuh, Din, buat aku belajar tahsin”, Meili mengiyakan. Bibirnya melebar ke kanan-kiri memperlihatkan gigi bagian atasnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Trus, bagaimana caranya aku bisa gabung”, tanya Meili penasaran.
“Gampang kok, Mei. Kau buka situsnya, lalu tulis biodatamu dan kasihin ke Adin. Pasti Adin menerimanya”. Ruri menyambung sembari tertawa. Mendengar perkataan itu, Meili hanya tersenyum menundukkan kepala. Ruri mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya sehingga membentuk huruf V ke arah Meili dan Adin. Ujung mata gadis berkerudung hijau asli Jawa Barat itu menangkap batang hidung cowok berbadan tegap di hadapannya.

“Pret…Pret…Pret…”
“Toreet-toreet….pret….pret….”
Bunyi serunya terompet dari arah lapangan semakin keras. Waktu menunjukkan pukul 24.01 WIB. Awal tahun baru telah dimulai.
“Alhamdulillah… Tahun baru telah tiba. Semangat baru harus dimulai juga”, ujar Adin. “Mari kita berdoa untuk kesuksesan kita di masa depan”, lanjutnya.
Semuanya menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangan dengan telapak terbuka. Mereka berdoa dengan khusyu’.
“Alfaatihah…” sambung Adin mengakhiri doa.
“Tahun baru masehi boleh meriah, tapi tahun baru hijriah wajib meriah. Adanya tahun baru membuat kita semakin sadar akan berkurangnya umur kita”, kata Ruri dengan senyum manisnya.
“Tahun baru, akhlak baik harus ditingkatkan..!”, sambung Meili dengan penuh semangat.