Laman

Wikipedia

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Galau di Malam Tahun Baru



Oleh: Dias
“A’, pesan nasi magelangan dua, es tehnya satu dan cappucino cincau latte-nya satu”, pinta gadis yang baru saja datang kepada pelayan di sebuah café komplikasi dengan salah satu menu uniknya, ‘Warung Burjo-an’. Gadis yang bernama Ruri itu mencari tempat lesehan.
“Di situ aja, Ri.. Nomor 001 seperti kesukaanku”, ucap Meili, teman Ruri, sambil mengangkat jari telunjuknya ke situs meja 001.

Mereka berdua membuka tas masing-masing dan mengambil laptop. Tak berapa lama setelah mencomot WIFI gratis dari café, kedua gadis manis itu tersenyum di depan layar laptopnya dan sesekali tertawa. Meili meraih gelas capcin latte-nya yang sudah datang dari tadi. Diteguknya sampai isi gelas hanya separuhnya.
“Astagfirullah… Mei, kamu tadi minumnya baca basmalah dulu tidak?”
“Ada apa toh?” Tanya Meili dengan mengernyitkan kedua alisnya.
“Apa tidak sadar, kalau isi gelasmu tinggal separuh?”
“Oh, ini… Aku sadar kok. Emm… iya sih tadi saya lupa baca doa, hehe… Allāhumma bārik lanā fī mā rozaqtanā waqinā adzābannār, āmīn..”
“Nah gitu dong, itu baru namanya orang Islam. Oke, sekarang kita santap nasi magelangannya dulu…!” Pimpin Ruri seperti komandan perang yang memberikan aba-aba kepada pasukannya.

Seusai makan, mata kedua gadis parang itu membalik laptopnya masing-masing. Sesekali mereka merengangkan tubuhnya yang mulai terasa pegal. Meili melirik layar laptop Ruri yang sedari tadi masih senyum-senyum sendiri. Ruri masih asyik dengan chatting-nya, sementara temannya yang berkerudung hijau itu sedang merasa jenuh dengan mulut dimoncongkan ke kiri-kanan. Melihat tingkah temannya yang aneh, Ruri melirik Meili dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Kenapa?” Tanya gadis berbatik mega mendung berwarna coklat dan berkerudung coklat, sembari senyum meledek. “Lā adriy… tiba-tiba saja merasa bosan. Tiap hari kerjaanku hampir nge-net terus kalau dipiki-pikir”, jelas Meili datar. “Ya sudah, tidak usah dipikir dong…” ujar Ruri dengan nada meledek. “Ah, kamu mah malah ngeledekk”, tandas Meili dengan menghela nafas. 

“Aku bosan banget nih, hampir tiap menit eksis di dunia maya, Fb, twittter atau media sosial lainnya. Aku tuh pengen banget punya karya biar jadi terkenal. Semua orang akan mengenalku karena karyaku yang banyak dibaca orang. Aku pengen—Yah! Intinya sudah bosan dengan hidupku selama ini!” Ujar Meili panjang lebar mencurahkan isi hatinya.
Ruri menghela nafas pelan. Hembusan angin menerpa batik Cirebon yang dikenakannya. “Itu sih gampang. Aku punya sebuah situs website buat kamu yang lagi galau”. Meili meletakkan laptopnya, sementara Ruri meletakkan laptopnya di atas meja kecil.
“Kamu kan suka online tuh, yah so pasti kamu tidak akan cepat puas dengan yang satu ini. Situs dompetpahala.com. Situs ini paling sering dikunjungi oleh para pemuda”.

“Terus..terus… ada apa saja di dalamnya? Aku bakalan dapat fasilitas apa saja nanti dari situs itu?” Dengan tiba-tiba Meili menyerobot dengan penuh rasa penasaran.
“Fasilitas?!  Memangnya seminar kalii…” Ujar Ruri dengan melebarkan mulutnya.

“Assalamu’alaikum…”
Seorang laki-laki datang di hadapan mereka. “Lagi pada ngapain nih? Nampaknya ada diskusi asyik nih malam ini... Apaan tuh?”
“Wa’alaikumussalaam…” Kedua gadis membalas salam. “Ih, kamu kepo banget sih, Din?!!”
“Lah kenapa? Ini kan Negara demokrasi, jadi aku boleh dong ikut-ikutan diskusi dengan kalian?” Tegas Ahmad Burhanudin yang disapa akrab Udin. “Lagian ini café bukan milik nenek moyangmu”.
“Ih, apa-apaan sih maksudmu. Gak nyambung juga deh ikutan diskusi dengan demokrasi”, kecap Ruri menyolot.
“Hehe… Afwan, cuma ber-kidding. Kalian lagi bahas apa sih sampai-sampai ngundang saya ke sini?”
“Kamu tuh gak jelas banget dweehh, Din…” ujar Ruri dengan menggoyangkan kepala ke atas-ke bawah, lalu memoncongkan bibirnya.

“Bismillah, begini loh ceritanya. Si Meili lagi galau, dia pengen berkarya lewat tulisan dan lainnya, biar terkenal gitu. Terus aku tunjukkan situs dompetpahala.com”. “Ah bener sekali itu! Saya tahu banyak tentang situsnya. Situs dompetpahala.com punya banyak rubrik, seperti artikel, fiksi, dan video”, jelas panjang lebar Si Adin kepada Meili. Adin menyeruput kopi hitamnya seraya meminum jus stroberi yang nikmat.

“Waah bagus banget tuh... Terus rubrik-rubrik itu penjelasannya bagaimana? Apa aku bisa manfaatin semuanya ?” Tanya Meili menyerbu Adin seperti sedang sedang dikejar-kejar oleh musuhnya. Adin spontan terdiam dan menatapi wajah Meili, entah kenapa seperti ada yang berdesir di dalam hatinya.

“Ehm… ada yang cinlok nih di café kayaknya”. Ruri berdehem. Adin tergentak dari lamunannnya dan bertingkah salting. Tapi, sesegera mungkin Adin menguasai dirinya dan menyambung lidah Meili.
“Lanjut ya. Jadi, rubrik artikel itu untuk para pemuda yang mau berbagi infomasi lewat artikelnya dan ia pun dapat menikmati artikel lainnya yang ia butuhkan. Kalau fiksi isinya cerpen, cerbung, novel, atau puisi dengan fungsi sama dengan artikel, pengunjung dapat membaca dan meng-upload karya fiksinyanya. Nah, buat nambah kalian eksis, di situs itu ada rubrik video yang digunakan untuk mengunggah karya rekaman video kita. Siapa tahu ada yang mau nonton dan bisa terinspirasi melihatnya“, jelas Adin dengan muka penuh ekspresi yang ditutup dengan senyuman.

Meili meraih gelasnya dan ternyata isinya telah habis. Lalu, tangan kirinya menjulur ke arah gelas miliki Ruri. Tanpa pamit, Meili meneguk es tehnya.

“Astaghfirullah, Meili… itu kan milikku. Kenapa kau sikat juga? Gak sopan sih, kamu. Kalau kamu permisi kan, ‘mungkin’ aku akan memberimu izin”, rengek Ruri dengan tatapan tajam pada Meili. Muka Meili seketika tunduk, “Afwan, ya ukhtiy… Aku minta maaf dan minta es tehmu ya…”

“Sudahlah, begitu saja kok ribut. Malu dong kalau dilihat teman-teman cowok”, ujar Adin bergaya seperti Da’i. “Oh ya, kenapa kalian tidak pergi ke lapangan? Bukankah ini malam tahun baru ya?”
“Oh ya? Malam ini malam tahun baru? Bagaimana saya bisa lupa ya?” ucap Ruri yang kali ini bersikap aneh.
“Tapi begini, saya mendengar perkataan dosen saya ketika mata kuliah Ibadah dan Akhlak. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa saja yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (dari agama tertentu), maka ia termasuk ke dalam bagian dari mereka’. Artinya, perayaan tahun baru masehi ini tergolong ke dalam perbuatan yang hukumnya haram karena mengikuti ajaran agama lain.” Lagi-lagi Adin berceramah di depan kedua gadis yang tampaknya terlihat sudah lelah.

“Iya, ustadz. Kami setuju itu. Tapi ada juga ulama yang mengatakan kalau ihwal ini tergantung daripada niatnya”, ceplos Meili.

“Contoh…?” Tanya Ruri yang di dalam hatinya mengiyakan pernyataan tersebut.
“Kalau memanfaatkan event malam tahun baru untuk berkunjung ke panti asuhan, memberi makan fakir miskin, membersihkan lingkungan itu termasuk perbuatan yang positif….”, jelas Meili dengan penuh senyuman dan ujung matanya melirik sosok laki-laki berkemeja kotak-kotak putih, “dan…apa yang sedang kita lakukan sekarang ini—berdiskusi—juga insya Allah termasuk ke dalam hal yang positif”.

“Enggih, Ustadzah…” ceriwis cewek yang sedari tadi memandang Meili semakin bertingkah beda setelah kedatangan cowok Madura itu. “Sepertinya kalian cocok deh kalau jadian, eh maksud saya…bersatu dalam akad nikah. Hehe…”
“Hush…sembarang aja kamu keluarkan kata-kata”, ucap Meili dengan nada tegas. Lalu tersenyum malu dengan Adin.

“Ah, ada yang terlewat. Satu lagi dari Mayora… yang tak kalah penting yaitu ada latihan tahsin dan tilawah al-Qur’an. Apalagi, dulu kamu kan pernah minta saya untuk ngajarin kamu tahsin, tapi saya tak bisa dan tak sempat. Banyak proyek,  hehe…”

“Wah bagus banget. Boleh juga tuh, Din, buat aku belajar tahsin”, Meili mengiyakan. Bibirnya melebar ke kanan-kiri memperlihatkan gigi bagian atasnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Trus, bagaimana caranya aku bisa gabung”, tanya Meili penasaran.
“Gampang kok, Mei. Kau buka situsnya, lalu tulis biodatamu dan kasihin ke Adin. Pasti Adin menerimanya”. Ruri menyambung sembari tertawa. Mendengar perkataan itu, Meili hanya tersenyum menundukkan kepala. Ruri mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya sehingga membentuk huruf V ke arah Meili dan Adin. Ujung mata gadis berkerudung hijau asli Jawa Barat itu menangkap batang hidung cowok berbadan tegap di hadapannya.

“Pret…Pret…Pret…”
“Toreet-toreet….pret….pret….”
Bunyi serunya terompet dari arah lapangan semakin keras. Waktu menunjukkan pukul 24.01 WIB. Awal tahun baru telah dimulai.
“Alhamdulillah… Tahun baru telah tiba. Semangat baru harus dimulai juga”, ujar Adin. “Mari kita berdoa untuk kesuksesan kita di masa depan”, lanjutnya.
Semuanya menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangan dengan telapak terbuka. Mereka berdoa dengan khusyu’.
“Alfaatihah…” sambung Adin mengakhiri doa.
“Tahun baru masehi boleh meriah, tapi tahun baru hijriah wajib meriah. Adanya tahun baru membuat kita semakin sadar akan berkurangnya umur kita”, kata Ruri dengan senyum manisnya.
“Tahun baru, akhlak baik harus ditingkatkan..!”, sambung Meili dengan penuh semangat.   

Jumat, 21 Juni 2013

Belajar Bahasa Arab Lagi



“Alhamdulillah, senang sekali rasanya. Malam minggu kali ini saya tidak lagi di asrama, tetapi kembali di kampus. Iya dong, pasalnya saya sudah berpaling dari belajar bahasa Arab bersama setelah kejadian yang menimpa. Bersyukur sekali, munajat ini dapat terkabul”. Begitulah Dhani berkata seraya curhat kepada sang Maha Pencipta.

Awalnya, dia lupa kalau malam ini hari Sabtu alias malam  Minggu. Lalu, seseorang mengirim pesan kepadanya yang bertuliskan: “Masuk atau libur nanti malam”. Begitulah pesan singkat yang terkesan bahwa orang tersebut sedang bête atau  kesal, namun terlepas dari kesannya, pesan itu mengingatkan Dhani akan ASC (Arabic Study Club). Dia tunggu beberapa menit balasan dari teman pengajar setelah mengirimkan pesan kepadanya, namun tak ada balasan. Lalu, dia putuskan membalas pesan tadi: “Iya, nanti masuk jam 7.15 Insya Alloh”. Sekilas pesan itu terbalas: “Apa tidak kemalaman”. Dan Dhani pun membalik memberi jawaban : “Oh kemalaman ya, berarti jam 6.30 nanti di unit XIX”.

Antara bahagia dan murung. Itulah perasaan yang dirasakan si pemuda berpostur medium saat akan berangkat. Belum ada teman dan motor untuk menemaninya ke kampus. Teringat, seseorang yang sedang menjaga perpus di asrama. Langsung saja ia kirimkan SMS kepadanya yang berisikan permintaan tolong. Bersyukur, Alloh mengizinkan dan mengirimkan seseorang untuk menemaninya. Ya! Itu dia sang penjaga perpus asrama, Dimas.

Maghrib pun tiba, mereka memutuskan baru berangkat setelah sholat. Dengan sebuah motor yang kuncinya masih ada pada Dhani, mereka pun berangkat menuju kampus. Setiba di kampus, masalah tetap ada, yakni terkait ruangan. Beruntung ada pak satpam yang kenal dekaat dengan Dhani, Pak Wan namanya. Ia mau mengerti kalau acara belajar bahasa Arab ini adalah rutinitas mingguan. Dengan melebarkan bibirnya, Dhani pun pergi membawa kunci ruangan di unit XIX. “Senangnya, Allah emang baik..”

Pukul 18.45 Dhani baru tiba di depan ruang XIX. Ruangan masih gelap dan tak ada seorang pun di luar kelas. Dhani masuk dan menyalakan lampu. “Hah..!” seolah kaget karena Muslim tiba-tiba berada di depan muka ketika Dhani membalikkan wajahnya. Kemudian, lima menit berikutnya datanglah seorang yang tak asing baginya, Indah. Ia sendiri datang tanpa kawan. Dhani mengajaknya untuk masuk dan Alhamdulillah tiga orang lagi dari kaum hawa datang, sehingga Indah pun merasa tidak sendiri (walaupun ….).

Di kelas terjadilah proses pembelajaran mengenai kalam dan macam-macam kalimat yang dipimpin oleh sang guru (Dhani).
“Kalam itu susunan dari kata-kata (kalimat-kalimat) yang memiliki makna sempurna. Kalam disebut juga jumlah mufidah atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kalimat sempurna. Kata (kalimat) itu sendiri adalah susunan huruf hijaiyah/arab, dapat pula terdiri dari satu huruf.”

“Kita mengenal kalimat isim, fi’il dan harf, dan iitulah macam-macam kalimah (kata). Kalimat isim yaitu kalimah yang menunjukkan makna pada dirinya dan tidak berkaitan  dengan waktu, dapat berupa kata benda, sifat, keterangan, dll. Fi’il adalah kalimah yang menunjukkan terjadinya  suatu perbuatan dan berkaitan dengan waktu tertentu (lampau, sekarang, atau akan datang). Sedangkan harf yakni kalimah yang hanya diketahui maknanya bila bersambung dengan kalimah lain (isim).”

Setelah materi selesai diberikan, Dhani bertanya kepada murid-muridnya apakah sudah mengerti atau belum. Setelahnya, ia memberikan latihan menggolongkan kalimah yang tersedia ke dalam 3 jenis kalimah tadi. Bacaan yang diambil adalah ayat al-Qur’an Surat al-Baqarah 10. Masing-masing murid mendapatkan giliran menuliskan 3 kalimat yang tersedia, lalu menggolongkannya. Semunya sudah paham, walaupun ada yang salah sedikit, tapi mungkin itu hanya salah menempatkan saja, hehe. Tidak seperti biasanya, sang guru merangkum materi yang sudah dijelaskannya.Dan di penghujung halaqoh, ia berkata kepada murid-muridnya:

“Silakan sediakan kertas sedikit saja, lalu tulislah kesan dan pesan untuk ASC ini serta apa harapan kalian mengikuti ASC ini!”

Tujuh menit berlalu menyusul kecepatan murid-murid menulis.
“Kholash (sudah selesai) …?”
“Kholash…Sudah… ” jawab beberapa murid yang aktif bercuap.
“Silakan dikumpulkan. Kita akhiri pertemuan kali ini. Hayya nakhtatim hadzal barnamij bi qiroatil hamdalah… ”
“Alhamdulillahhirobbil’aalamiin…” serempak murid-murid menjawab.
“Akhirul kalam , assalamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh…”
“Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarokatuh…”

« Begitulah cerita pendek pada kesempatan kali ini. Sangat menarik ! »
Tertulis dari 17 Juni berlanjut di 21 Juni 2013.
   


Senin, 17 Juni 2013

Inilah Rahasia Allah…

Hari itu hari Kamis (13/6). Adalah ‘kesempatan’ saya untuk seminar Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kenapa saya katakan ‘kesempatan’? karena kedua dosen (pembimbing dan pengujinya) hanya punya waktu hari itu sebelum tanggal 24 Juni berakhir. 

Antara bahagia dan terlena, saya rasakan saat itu. Laiknya siang yang mengejar pagi. Bahagia dapat merasakan seminar setelah 2 bulan memasukkan berkas laporan PKL. Apalagi as A first student yang mengumpulkan berkas. Walau tidak maju di urutan pertama. Juga terlena, saat itu saya masih menyisakan sakit. Sakit di atas bibir yang membuat kesakitan saat bicara. Apalagi bercanda, dan saya tak menyentuh sedikit pun candaan. Kedua, Re-START ingatan baru dilakukan 2 minggu dan daya hapalku menurun.

Dengan ingatan dan kuat ingat seadanya, saya tawakkal kepada-Nya. Mau menolak bagaimana. Jika diundur, kemungkinan besar saya tak dapat maju lagi. Kecuali, membayar denda tanda terlambat seminar PKL atau maju seminar ketika atau paska UAS. Itu tidak dapat saya lakukan.

Sebelum mulai, saya berpikir. Mungkinkah ini yang dirahasiakan Allah. Dia lah yang merencanakan semuanya, segala tindak-tanduk hamba-Nya.  Teringat, surat al-Baqarah ayat 286. La yukallifullahu nafsan illa wus’aha’ , Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan terdaya olehnya. Ternyata, sekarang ku tahu pekerjaan PKL itu untuk memudahkanku saat ini.

Analisis yang ku lakukan saat PKL yakni validasi neraca analitik. Ketika praktikum, saya heran kenapa saya hanya diberi ini. Sementara temanku dapat analisis lumpur yang menarik. Allah tahu kalau nanti saya akan mengenai ‘sakit’. Praktikum itu dibuat mudah oleh-Nya (kendati agak sulit bagi saya menerimanya saat itu) agar saat seminar saya tidak kewalahan. Sungguh di luar dugaan.

Allah memang baik. Janganlah sekali-kali kita menyalahkan-Nya, apalagi memaki-Nya. Kau pikir siapa Dia?. Siapa yang tahu bahwa pekerjaan kita saat ini menjadi ‘sesuatu’ nanti bagi kita. Tetaplah berpikir positif dan optimis. Terima saja, lakukan dengan baik dan ikhlas, tawakkal agar semuanya berjalan sesuai kebutuhan, walau tak sesuai keinginan kita.

(ditulis saat sakit. Pukul 07.00-08.00, Selasa (18 Juni 2013) di negeri India-nama kamarku bersama Mas Yasser Azka UA,S.T.)   

Kamis, 14 Februari 2013

The first Weekend in My PKL


Tahukah kau apa yang aku lakukan kalau liburan kerja? Sebagian orang bepergian ke kota atau tempat-tempat ramai yang menjadi kota utama di Cilegon atau di Banten. Ada pula yang malah menggunakan waktu libur untuk garap laporan PKL. Ya, salah satunya adalah diriku. Karena aku tidak ingin menunda-nunda pekerjaan dan ingin cepat pulang ke kampong, maka dari itu aku harus merampungkannya sebelum akhir atau maksimal hari akhir untuk PKL di DR Plant PT KS.

Hari Sabtu, aku pergi ke tampat tinggal baru untuk melihat-lihat kondisi kamar dan rumahnya. Ternyata rumah yang akan aku tinggali mungil dan sederhana. Di tempat baru itu aku akan mendapatkan makan tiga kali (pagi-siang-malam) kalau Sabtu dan Ahad, sementara hari kerja hanya dua kali (siang dan malam), tapi makan siang itu diantar ke pabrikku. Wah, uenak sekali. Laundry pakaian juga dari situ. Hal lain, aku dapat contoh laporan KP dari beberapa tahun sebelumnya yang tinggal di situ. Hanya saja, aku masih membayangkan harganya yang tidak kalah saing, 850 ribu / bulan, kawan. Ibu (Bu Erna) bilang sih, dia dan Bu Ani (Endar Hananingsih Dyah) yang menaggung bayarannya. Aku belum mendapatkan hal yang clear  tentang hal itu sampai Ahad tiba.

 Hari Ahad aku sudah siap-siap untuk beralih tempat dari rumaah Ibu ke ruamh Bu Ani. Sekitar jam 10 aku pergi ke habitat baru bersama A’ Iman (anak pertama Ibu). Sebelumnya, aku sudah diberi sarapan nasi uduk yang cukup mengenyangkan. Sudah itu, aku cucikan piring dan gelas yang kotor. Aku juga mikir pekerjaanku belum dapat membayar harga nasi yang kumakan.

Sampai di rumah Bu Ani, aku bertemu dengan anak-anak Teknik Mesin UNS Surakarta, Teknik Mesin UB, dan Teknik Fisika UGM YOGyakarta. Hidup di daerah Snda, tapi kami tetep asyik dengan JAWA, maklum kami semua dari golongan Jawa, yang tanpa punya salah berbicara dengan bahasa Jawa, hehe. Di tempat baru ini, terkesan asyik saat pertama kali ku masuk, suasana rumah yang membuat santai, penuh kedamaian, dan pemiliknya pun ramah meski berbeda ‘paham’ dengan kami.

Aku makan tiga kali sehari hari Ahad ini. Pakaian pun dicucikan dan diseterikakan. Tempat tidur dengan kasur yang empuk plus bantal pillow dan guling, walau di ranjang atas dan tak ada lemari untuk sekedar mennyimpan buku dan baju. Tapi itu tak begitu urgent.

Hari ini aku menjadi orang beruntung karena aku menjemput bola rezekiku. Rezeki itu sudah diatur oleh Allah dan itu berada di tangan-Nya. Nah, kalau kita tidak mengambilnya, maka rezeki itu ya tetap tinggal di tangannya. Padahal Allah sudah menyuruh kita untuk menjemputnya.