Laman

Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 14 Februari 2013

The 2nd Day in PKL



Mungkin lebih tepatnya adalah hari kedua aku di BAnten,  karena aku baru masuk PKL hari ini (5 Feb 2013). Ku bangun subuh telah pagi ini. Jam 5 aku bangun dan menuju ke masjid untuk Subuh 2 raka’at. Setelah itu, aku mandi di masjid karena di rumah Bapak tak kutemukan kamar mandi. Wah, ternyata ada juga Obi yang lagi mandi dan kutemukan ia dalam kondisi telanjang bulat di tempat wudlu (astaghfirullah… apakah A’ Deo juga seperti ini setiap harinya…?) Karena gak kamar tertutup selain tempat wudlu dan tak ada celana untuk basahan, aku pun buka sandangku tanpa sisa (jangan dibayangin ya…kan itu sama aja kayak di kamar mandi)

Sudah siap aku berangkat, aku diajak makan oleh Ibu (mama A’ Deo ya…). Aku masih dikasih makan loh sebelum berangkat ke Cilegon walau mereka dalam keadaan seperti itu. Aku sangat bersyukur dan berdoa : “Semoga balasannya lebih dari apa yang diberikan dan barokah”.

Pagi yang cukup telat dan menelatkan (aku tak tepati janji), jam 06.30 aku baru melaju ke ring road bersama Bapak+ De’ Diki. Uang ku keluarkan tuk ongkos bertiga ke PUSDIKLAT PT KS. Syyukur sampai di target place. Kami temui Bu Erna untuk mengurus administrasinya (bukan berarti ada bayar ya…). Aku pun minta maaf atas keterlambatan hari kedua karena di jalan jembatan Serang, spion mobilnya  ditenggor truk. Bu Erna mengerti keadaanku (terima kasih, Bu…) dan menyuruhku untuk masuk ke ruangan karena sedang ada pengarahn materi K3LH dan Bapak diminta pulang karena saya akan sampai sore di tempat. Bapak pun pulang bersama Diki ke Pandeglang.

Aku masuk ruang dan bagian belakang yang masih kusyukuri untuk kutempati. Aku dapat teman baru dari SMK sekitar Cilegon, ada Ikhsan dari SMK YP Fatahillah, dan lainnya yang tak dapat kusebutkan 1 per 1 (hehe, padahal mah lupa namanya…). Dia dari Jurusan Mesin dan aku akrab sekali dengannya.

Istirahat aku berjumpa Fachri dan makan bersama di kantin. Kupesan the hangat saja, sedang Fachri bawa bekal (katanya dia ‘kapok’ dengan kejadian kemarin karena harga nasinya wuiihh melambai-lambai). Banyak cerita yang kami obrolkan di sana sampai pada posttest K3LH hari itu juga.

Benar yang dikatakan Fachri, ada posttest hari itu, jam 2 siang tepatnya (padahal janjinya jam 4). Ya, sudahlah aku hanya menjawab apa adanya dan saya kira jawabannya sekitar lingkungan kerja dan keselamtannya serta pencemaran lingkungan (masih kujangkau deh walau tak ikut 1 hari – sombong he..). Alhamdulillah aku dan Fachri lulus, padahal yang lain ada yang harus mengulangin test-nya (banyaknya sih anak SMK YP KS sendiri dan lainnya serta mahasiswa PT – dari IPB semuanya juga mengulang, ih malu bener deh…). Katanya sih kalau sudah mengulang sekali test dan tidak lulus laggi, maka PKL nya ditunda bulan depan atau bahkan tahun depan, mengeri(ng)kan sekali untuk dipulangkan.

Hampir setengah dari siswa PKL bulan ini yang tidak lulus posttest K3LH ketika itu dan harus mengikuti remediasi tesnya. Wah, aku sungguh tegang ketika nama-nama yang tidak lulus disebut. Aku tunduk dan berdoa terus tanpa henti dan bercanda dengan teman. Ketika dilihat kertas kumpulan mereka yang tidak lulus posttest habis, aku langsung ucap “Alhamdulillah…terima kasih ya Allah.” Mereka yang disebut, mengulangi tesnya sekali dan langsung mengumpulkan jawabannya. Jam 4 tiba dan jawaban tes telah dikoreksi sampai ujung dan hasilnya: “Yang tidak lulus ujian PKL di PT Krakatau Steel adalah…. Tidak ada…”. Sorak-sorai tanda syukur dan gembira dikumandangakaan.. (kayak adzan saja ya). Bulan ini semua siswa diterima PKL dan aku sangaat yakin sebeenarnya tidak mungkin ada siswa yang tidak diluluskan karena kita semua juga sudah melalui tahap seleksi dari 700an pendaftar hanya kita (200an) yang diterima.

Pulang dari test, aku ke depan kantor Bu Erna sesuai janji karena mau nginep di rumahnya sementara. Ternyata, di situ saya dapat sepatu dan helmet pinjaman dan langsung saja kuambil. Bu Erna menjumpaiku dan mengajakku dan Fachri ke rumahnya.

Tiba di rumah, kita makan mie dok-dok. Selesainya, kita pergi cari tempat jual sandang karena aku gak bawa sandang urgent (apaan tuh…?) dan Ramayana lah yang dituju. Rupanya Fachri tergoda dengan apa yang ada di sana. Akhirnya dia beli celana pendek berrbatik. Pulangnya, kami makan es dan Fachri yang bayarin karena dia yang nawarin (makacih ya boy… -kalao aku sih gak berani beli es krim di situ – kalo dia mungkin sudah biasa). Seterusnya kita pulang saja tanpa sholat  Isya dulu karena mau sholat aja harus bayar, huuufft… (kasian yang gak punya duit ya, berarti mereka gak sholat doong!)

Pelajaran hari ini ya aku harus berani berbicara dengan yang lain biar ada jalinan informasi dan kekeluargaan. Kemudian, berusahalah semaksimal mungkin mengejar asa dan percayalah Allah akan membantu dan mendengar doa kita. 

My Story of PKL in PT Krakatau Steel (bag 1)



Masa PKL adalah masa seorang mahasiswa mengenal dunia industri lebih real, selain untuk aplikasi teori yang sudah didapat dari perkuliahan kampus. Nah, daripada nganggur dan blog saya tak aktif, maka saya isi dengan beberapa cerita saya awal PKL di PT Krakatau Steel (KS), Tbk. bagi yang belum nih, perusahaan KS itu memproduksi steel (baja)dan menjadi perusahaan baja pertam di Asia Tenggara. lokasinya ada di Cilegon, propinsi Banten. 
The 1st Day of My PKL
PKL di PT KS dimulai tanggal 04 Februari 2013 (Senin). Aku berangkat dari Jogja Ahad pkl 15.00 dan tiba di terminal Serang baru Senin pukul 12.00 WIB.

Alhamdulillah Allah memberikanku peringatan sekaligus keselamatan dari ini. Bis Santoso yang aku bayar 145.000 (gak penting kali yee), seharusnya sampai di Serang pukul 05.00, tapi realita berkata lain. As-sabab yakni ban mobil angus malam hari dan paginya bujur diseruduk container dari belakang hingga pengok dan mesin hampir mati. Dua jam aku telah menunggu bis di jalan tol, Bapak (Ayah A’ Deo, yang juga menjadi Bapak angkatku) menelepon: “Said, sudah dimana?” “Masih di terminal Bekasi, pak. Mungkin sekitar 2 jam lagi,” jawabku.

Setelah itu, aku sms ke Bu Erna (pengurus administrasi PKL di PT KS), yang isinya adalah permintaan maafku terlambat datang di PUSDIKLAT. Dibalas olehnya: “Iya, gak apa-apa. Kondisi Said gimana? Sekarang istirahat dulu, besok pagi saja ikutnya tidak apa-apa.” Alhamdulillah sekali tuturku dalam hati.

Tibalah di terminal Serang, tapi tepatnya depan agen Bis Santoso. Aku turun langsung mencari konter untuk men-charge HP ku yang sedari di mobil low battery. Kutinggal HP ku di konter dan aku mencari masjid untuk mandi (hehe, 2 hari belum mandi…) dan sholat Dzuhur. Ternyata Bapak nelpon HP ku beberapa kali, aku cukup menyesal telah membuatnya kecewa. Lalu A’ Deo nelpon: “Said lagi dimana? Dah ditunggu ma Bapak tuh di terminal, astaghfirullah…”. “Ya, pak nanti saya ke depan lampu merah”, jawabku pada telpon Bapak setelah A’ Deo telpon. Via sms kumanfaatkan sebelum HP mati untuk memberi isyarat pakaianku bahwa aku memakai peci putih dan jaket hitam. Alhamdulillah di lampu merah, Bapak melambaikan tangannya menandakan ia menemukanku dan aku pun baru tahu kalau penampilan bapak seperti itu. Aku sedikit diomelin sama Bapak, hehe (maaf ya pakk dan A’ Deo…).

Cium tangan dan salam telah kulakukan, tingggal ikut bapak menuju ke Serang. Awalnya, aku mengira itu rumah A’ Deo, tapi rupanya rumah Bibi. Kusambi kopi dan rambutan. Jam 3 aku dan bapak + de’ Diki pulang ke Pandeglang, setelah pamit dengan Mama, Bibi dan Uwak. Dalam perjalanan, hujan mengguyur akibatnya kami berhenti di pasar Serang kota. Alhamdulillah di situ aku dapat charger HP ku yang pas dengan harga 25 ribu + charge ¼ full karena udah mau melanjtukan perjalanan lagi.

Sampai di rumah Pandeglang, aku kaget karena rumahnya begitu luas dengan 1 ruang serbaguna (maaf ya, A’ Deo). Alhamdulillah maghrib segera datang setelah aku dan Bapak tunaikan sholat Ashar. Maksudnya untuk alasan agar aku tinggal di masjid sehingga tak merepotkan mereka. Aku tak mandi lagi sore itu. Tak masalah. Hebatnya dari keluarga A’ Deo adalah mereka masih bisa menghormati tamu dengan baik, memberiku makan malam dengan seadanya (ada ikan, sambal, lalapan, mie goring juga hehe, banyak ya..). abis maghrib aku keluar masjid bergabung dengan remaja masjid. Ya apa lah SKSD kan silaturahmi. Yang kukenal ada Bukhori, Obi, Very, dan 1 lagi siapa ya llupa… (dibantu ya, A’ Deo..). mereka semua ternyata rekan seperjuangan A’ Deo di masjid.

Setelah Isya, aku teringat akan tugas ujian pondok yang belum dikirim. Kucari warnet, tak ada rupa. Ada Very (kawan A’ Deo) yang punya modem dan laptop, tapi koneksinya cukup lama dan saya belum juga kerjain tugas power point-nya. Akhirnya jam 10 malam tiba dan saya harus mengakhirinya karena tak baik berlam di rumah orang, sementara Bapak juga menungguku di rumah. 

Aku harus pulang karena janjiku. Ku pulang, pintu sudah tertutup, akhirnya aku naik ke jendela rumah sebelah tempat A’ Deo  tidur (kamar teman A’ Deo). Di sana kutemui teman A’ Deo yang kuliah di UIN Jakarta (lupa juga namanya, maaf ya a’..). 

Yah, di sinilah aku belajar hidup dan kehidupan dengan teladan A’ Deo yang pernah kulihat. Satu, aku harus bersabar menghadapi keadaan yang tak sesuai harapan. Dua, usaha dulu, baru ngomong.

Jumat, 28 Desember 2012

MERPATI, TAK PERNAH INGKAR JANJI

     Berawal dari perjalanan hidup seorang lelaki yang sedang mencari jati diri. Ia pergi ke sana kemari lantaran punya kesibukan di luar habitatnya. Mobilisasi yang kurang mensupport menjadi salah satu faktor ia menjadi ‘jarang’ bersatu lagi dengan kawanannya tatkala ia sedang ada agenda. Susah tuk kembali, susah tuk pergi.
     Tak tahu, suatu hari ia tak terkendali. Pada suatu agenda, ia menuggu para juniornya yang belum juga tiba di saat waktu yang telah dijanjikan. Sampai waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB hanya 2 junior yang telah datang. Dengan rasa bersalah, ia (yang datang in time) ungkapkan kalimat apologies-nya hingga berujung pembicaraan usulan penggantian waktu pertemuan. Waktu telah memukul 20.15 WIB, tak terasa sekali larutnya. Ia putuskan segera kembali ke habitatnya karena janjinya hanya memakai ‘mobil’ hingga pukul 19.30 WIB. Hati yang masih berselimut kesal melihat perilaku juniornya.
     Tiba di tempat asalnya, ia dipergoki pemilik ‘mobil’ yang telah jemu menunggu kedatangannya di teras samping. Menyesal dan malu, itulah rasa yang dirasakan sang pemuda. Karena merasa ada yang tertinggal dan ada seauatu yang harus dikerjakan di habitat teman, sang pemuda langsung minta pemilik ‘mobil’ tuk dia ikut.
     Tujuan sang ‘empunya’ tak sesuai harapan karena tempat tujuan telah tertutup. Salah siapa? Si pemuda. Andai saja si pemuda itu datang TEPAT WAKTU, TIDAK INGKAR JANJI, ia akan selamat dan dapat mengerjakan tugasnya. Walhasil, ia kirimi si pemuda SMS yang berisi tidak lain peringatan agar tidak mengulangi lagi, janji haruslah ditepati. Karena ia punya tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. Sebenarnya, dari SMS itu si pemuda berpikir, apakah ituu salah dia atau temannya (empunya ‘mobil’) ? bila tugas itu dikerjakan tidak in limited time, si pemuda kira tugas akan dapat diselesaikan dan dikumpulkan.     
     Satu kata yang pantas, "Jangan pernah menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan diri sendiri". Tapi juga salah si pemuda karena dia tidak bilang terlebih dahulu kalau ternyata tidak jadi pembicaranya. Dari kisah ini, saya coba mengggali mengapa ada istilah 'Merpati tak Pernah Ingkar Janji'.

1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka  berganti pasangan ? Jawabannya adalah TIDAK !! Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.

2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain ? Jawabannya adalah TIDAK !!

3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci ? Jawabannya adalah TIDAK !!

4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya ? Jawabannya adalah TIDAK !!

5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan KEPAHITAN sehingga tidak menyimpan DENDAM !!

Kalau seekor burung merpati saja bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa ?? Hidup itu indah jika kita saling MENGERTI, BERBAGI, dan MENGHARGAI !! Mari kita sama-sama perbaiki diri untuk menuju BETTER.