Laman

Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 14 Februari 2013

My Story of PKL in PT Krakatau Steel (bag 1)



Masa PKL adalah masa seorang mahasiswa mengenal dunia industri lebih real, selain untuk aplikasi teori yang sudah didapat dari perkuliahan kampus. Nah, daripada nganggur dan blog saya tak aktif, maka saya isi dengan beberapa cerita saya awal PKL di PT Krakatau Steel (KS), Tbk. bagi yang belum nih, perusahaan KS itu memproduksi steel (baja)dan menjadi perusahaan baja pertam di Asia Tenggara. lokasinya ada di Cilegon, propinsi Banten. 
The 1st Day of My PKL
PKL di PT KS dimulai tanggal 04 Februari 2013 (Senin). Aku berangkat dari Jogja Ahad pkl 15.00 dan tiba di terminal Serang baru Senin pukul 12.00 WIB.

Alhamdulillah Allah memberikanku peringatan sekaligus keselamatan dari ini. Bis Santoso yang aku bayar 145.000 (gak penting kali yee), seharusnya sampai di Serang pukul 05.00, tapi realita berkata lain. As-sabab yakni ban mobil angus malam hari dan paginya bujur diseruduk container dari belakang hingga pengok dan mesin hampir mati. Dua jam aku telah menunggu bis di jalan tol, Bapak (Ayah A’ Deo, yang juga menjadi Bapak angkatku) menelepon: “Said, sudah dimana?” “Masih di terminal Bekasi, pak. Mungkin sekitar 2 jam lagi,” jawabku.

Setelah itu, aku sms ke Bu Erna (pengurus administrasi PKL di PT KS), yang isinya adalah permintaan maafku terlambat datang di PUSDIKLAT. Dibalas olehnya: “Iya, gak apa-apa. Kondisi Said gimana? Sekarang istirahat dulu, besok pagi saja ikutnya tidak apa-apa.” Alhamdulillah sekali tuturku dalam hati.

Tibalah di terminal Serang, tapi tepatnya depan agen Bis Santoso. Aku turun langsung mencari konter untuk men-charge HP ku yang sedari di mobil low battery. Kutinggal HP ku di konter dan aku mencari masjid untuk mandi (hehe, 2 hari belum mandi…) dan sholat Dzuhur. Ternyata Bapak nelpon HP ku beberapa kali, aku cukup menyesal telah membuatnya kecewa. Lalu A’ Deo nelpon: “Said lagi dimana? Dah ditunggu ma Bapak tuh di terminal, astaghfirullah…”. “Ya, pak nanti saya ke depan lampu merah”, jawabku pada telpon Bapak setelah A’ Deo telpon. Via sms kumanfaatkan sebelum HP mati untuk memberi isyarat pakaianku bahwa aku memakai peci putih dan jaket hitam. Alhamdulillah di lampu merah, Bapak melambaikan tangannya menandakan ia menemukanku dan aku pun baru tahu kalau penampilan bapak seperti itu. Aku sedikit diomelin sama Bapak, hehe (maaf ya pakk dan A’ Deo…).

Cium tangan dan salam telah kulakukan, tingggal ikut bapak menuju ke Serang. Awalnya, aku mengira itu rumah A’ Deo, tapi rupanya rumah Bibi. Kusambi kopi dan rambutan. Jam 3 aku dan bapak + de’ Diki pulang ke Pandeglang, setelah pamit dengan Mama, Bibi dan Uwak. Dalam perjalanan, hujan mengguyur akibatnya kami berhenti di pasar Serang kota. Alhamdulillah di situ aku dapat charger HP ku yang pas dengan harga 25 ribu + charge ¼ full karena udah mau melanjtukan perjalanan lagi.

Sampai di rumah Pandeglang, aku kaget karena rumahnya begitu luas dengan 1 ruang serbaguna (maaf ya, A’ Deo). Alhamdulillah maghrib segera datang setelah aku dan Bapak tunaikan sholat Ashar. Maksudnya untuk alasan agar aku tinggal di masjid sehingga tak merepotkan mereka. Aku tak mandi lagi sore itu. Tak masalah. Hebatnya dari keluarga A’ Deo adalah mereka masih bisa menghormati tamu dengan baik, memberiku makan malam dengan seadanya (ada ikan, sambal, lalapan, mie goring juga hehe, banyak ya..). abis maghrib aku keluar masjid bergabung dengan remaja masjid. Ya apa lah SKSD kan silaturahmi. Yang kukenal ada Bukhori, Obi, Very, dan 1 lagi siapa ya llupa… (dibantu ya, A’ Deo..). mereka semua ternyata rekan seperjuangan A’ Deo di masjid.

Setelah Isya, aku teringat akan tugas ujian pondok yang belum dikirim. Kucari warnet, tak ada rupa. Ada Very (kawan A’ Deo) yang punya modem dan laptop, tapi koneksinya cukup lama dan saya belum juga kerjain tugas power point-nya. Akhirnya jam 10 malam tiba dan saya harus mengakhirinya karena tak baik berlam di rumah orang, sementara Bapak juga menungguku di rumah. 

Aku harus pulang karena janjiku. Ku pulang, pintu sudah tertutup, akhirnya aku naik ke jendela rumah sebelah tempat A’ Deo  tidur (kamar teman A’ Deo). Di sana kutemui teman A’ Deo yang kuliah di UIN Jakarta (lupa juga namanya, maaf ya a’..). 

Yah, di sinilah aku belajar hidup dan kehidupan dengan teladan A’ Deo yang pernah kulihat. Satu, aku harus bersabar menghadapi keadaan yang tak sesuai harapan. Dua, usaha dulu, baru ngomong.

Jumat, 28 Desember 2012

MERPATI, TAK PERNAH INGKAR JANJI

     Berawal dari perjalanan hidup seorang lelaki yang sedang mencari jati diri. Ia pergi ke sana kemari lantaran punya kesibukan di luar habitatnya. Mobilisasi yang kurang mensupport menjadi salah satu faktor ia menjadi ‘jarang’ bersatu lagi dengan kawanannya tatkala ia sedang ada agenda. Susah tuk kembali, susah tuk pergi.
     Tak tahu, suatu hari ia tak terkendali. Pada suatu agenda, ia menuggu para juniornya yang belum juga tiba di saat waktu yang telah dijanjikan. Sampai waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB hanya 2 junior yang telah datang. Dengan rasa bersalah, ia (yang datang in time) ungkapkan kalimat apologies-nya hingga berujung pembicaraan usulan penggantian waktu pertemuan. Waktu telah memukul 20.15 WIB, tak terasa sekali larutnya. Ia putuskan segera kembali ke habitatnya karena janjinya hanya memakai ‘mobil’ hingga pukul 19.30 WIB. Hati yang masih berselimut kesal melihat perilaku juniornya.
     Tiba di tempat asalnya, ia dipergoki pemilik ‘mobil’ yang telah jemu menunggu kedatangannya di teras samping. Menyesal dan malu, itulah rasa yang dirasakan sang pemuda. Karena merasa ada yang tertinggal dan ada seauatu yang harus dikerjakan di habitat teman, sang pemuda langsung minta pemilik ‘mobil’ tuk dia ikut.
     Tujuan sang ‘empunya’ tak sesuai harapan karena tempat tujuan telah tertutup. Salah siapa? Si pemuda. Andai saja si pemuda itu datang TEPAT WAKTU, TIDAK INGKAR JANJI, ia akan selamat dan dapat mengerjakan tugasnya. Walhasil, ia kirimi si pemuda SMS yang berisi tidak lain peringatan agar tidak mengulangi lagi, janji haruslah ditepati. Karena ia punya tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. Sebenarnya, dari SMS itu si pemuda berpikir, apakah ituu salah dia atau temannya (empunya ‘mobil’) ? bila tugas itu dikerjakan tidak in limited time, si pemuda kira tugas akan dapat diselesaikan dan dikumpulkan.     
     Satu kata yang pantas, "Jangan pernah menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan diri sendiri". Tapi juga salah si pemuda karena dia tidak bilang terlebih dahulu kalau ternyata tidak jadi pembicaranya. Dari kisah ini, saya coba mengggali mengapa ada istilah 'Merpati tak Pernah Ingkar Janji'.

1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka  berganti pasangan ? Jawabannya adalah TIDAK !! Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.

2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain ? Jawabannya adalah TIDAK !!

3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci ? Jawabannya adalah TIDAK !!

4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya ? Jawabannya adalah TIDAK !!

5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan KEPAHITAN sehingga tidak menyimpan DENDAM !!

Kalau seekor burung merpati saja bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa ?? Hidup itu indah jika kita saling MENGERTI, BERBAGI, dan MENGHARGAI !! Mari kita sama-sama perbaiki diri untuk menuju BETTER.
 

Minggu, 04 November 2012

Renungan dan Motivasi (1)

Semua terjadi dengan izin-Nya dan pasti sarat dengan hikmah, penuh makna & ilmu bagi yang peka hati dan dapat mentafakurinya. Bukan mencari rizki , melainkan menjemput rizki. Karena setiapa makhluk disiptakan lengkap dengan rizkinya, yang dicari keberkahannya. Jalani saja hidup ini, hati harus ridlo dengan takdir apa pun, sambil terus tobat, jauhi maksiat, tingkatkan taat, pasti ada solusi.